Tenggarong – Sebagai wujud kepedulian YAMAHA terhadap dunia Pendidikan
di Indonesia, YAMAHA memberikan donasi berupa mesin kepada beberapa SMK.
Kegiatan donasi YAMAHA terhadap SMK ini adalah sebagai salah satu kegiatan CSR (Corporate
Social Responsbility) dalam upaya menunjang pembelajaran praktek kepada
siswa di Sekolah sehingga terjadi link and match antara dunia pendidikan
dan dunia industri. Untuk Wilayah Kalimantan Timur pemberian donasi ini
dilaksanakan pada tanggal 26 September 2013 bertempat di SMK 2 Tenggarong,
Jl. Ahmad Dahlan, Tenggarong. Dalam acara ini donasi diberikan langsung
oleh Pimpinan PT. Yamaha Indonesia Motor Manufacturing, Henry Gani.
Pemberian donasi dari YAMAHA kepada
SMK sudah menjadi agenda tahunan dan menjadi langkah awal untuk kerjasama
selanjutnya. Meskipun demikian untuk kelajutan kerjasama ini tetap
melalui proses penilaian dan evaluasi terhadap jaringan SMK yang bekerjasama
dengan YAMAHA. Penilaian yang dilakukan meliputi status Akreditasi, jurusan
sepeda motor, Unit praktek yang digunakan, keseriusan SMK dalam pengembangan
Jurusan, keterlibatan SMK dalam aktivitas YAMAHA, dan pemanfaatan serta
pengembangan unit Donasi
Pada donasi tahun ini, untuk wilayah
Kalimantan Timur terpilih sebanyak 18 SMK yang diberikan donasi. SMK N 20
Samarinda, SMK N 12 Samarinda, SMK N 10 Samarinda, SMK Cendana DDI, SMK N 11
Samarinda, SMK PGRI 5 Samarinda, SMK N 19 Palaran, SMK Darussalam Samarinda,
SMK N 1 Balikpapan, SMK Ibnu Khaldun Balikpapan, SMK Setia Budi Balikpapan, SMK
N 1 Penajam, SMK Pelita Gama Penajam, SMK N 2 Tenggarong, SMK Geologi
Pertambangan Tenggarong, SMK Utama Samboja, SMK N 2 Tanah Grogot, SMK N 3 Tanah
Grogot. Donasi yang diberikan berupa 36 unit Mesin Sepeda Motor
Yamaha
Dalam rangkaian kegiatan tersebut,
juga diadakan seminar dan workshop mengenai teknologi Injeksi yang diaplikasikan
pada sepeda motor YAMAHA serta perawatannya. Guru dan siswa diberikan
kesempatan untuk mempelajari dan mempraktekkan perawatan motor injeksi
menggunakan peralatan yang selama ini sudah tersedia di bengkel resmi YAMAHA.
Sebagai pembuktian bahwa perawatan FI YAMAHA, MUDAH dan MURAH
Dengan adanya kegiatan donasi
tersebut di atas diharapkan dapat memberikan kontribusi positif terhadap
perkembangan dunia pendidikan di SMK terutama jurusan Otomotif Teknik Sepeda
Motor.
Alian Noor
Manager Service PT Surya Timur Sakti Jatim
Main Dealer Yamaha Kalimantan Timur
Salam semakin di depan
Suparnen
dan Katmi merasa hidup di Desa Pager Lor, Kecamatan Sudimoro, Kabupaten
Pacitan, Jawa Timur, tidak memberi harapan. Pulau Jawa yang dirasa
sudah padat penduduk dianggap sudah tidak mampu memberi penghidupan yang
layak. Untuk menyiasati yang demikian, pada tahun 1982, mereka
memutuskan untuk ikut program transmigrasi.
Mereka ikut program
pemerintah itu dengan alasan mendukung program penyebaran penduduk,
penghasilan di tempat asal tidak mencukupi, serta di daerah tujuan
transmigrasi masih banyak tanah-tanah yang luas dan belum digarap, ini
merupakan sebuah peluang. Akhirnya ia bersama dengan 50 kepala keluarga
lainnya, ikut program transmigrasi yang diadakan oleh pemerintah dengan
penempatan di Desa Jonggon Jaya, Kecamatan Loa Kulu, Kabupaten Kutai
(belum pemekaran), Kalimantan Timur.
Ketika tiba di Jonggon Jaya,
keadaan desa itu masih dalam proses pembukaan lahan, pohon-pohon hutan
masih ditebangi. Selepas penebangan hutan, lahan-lahan yang akan dicetak
menjadi sawah itu masih berupa tanah lapang dengan timbunan potongan
batang dan ranting yang masih berserakan. Di lahan bekas hutan itulah
para transmigran dijatah 1 ha untuk sawah dan 0,5 ha untuk bangunan
rumah dan pekarangan. Lahan hasil pembagian itu oleh para transmigran
dicetak menjadi sawah sendiri.
Meski mencetak sawah sendiri hal
demikian tidak menjadi masalah bagi para transmigran, dengan suka rela
mereka mengerjakan demi masa depannya. Begitu lahan sudah menjadi sawah,
para transmigran menanami dengan padi jenis IR64 dan jenis lain. Panen
padi di Jonggon Jaya hasilnya bervariasi, sebab sawah di desa itu bukan
sawah dengan sistem pengairan irigasi, seperti di Jawa atau Bali, namun
sawah dengan pengairan tergantung pada curah hujan atau dikenal dengan
sebutan sawah tadah hujan. Jadi tergantung pada iklim yang ada. Bila
dalam keadaan normal, luas sawah 1 ha menghasilkan panen 4 ton. Pada
saat itu hasil panen tidak dijual perkilo namun perkuintal. Satu kuintal
harganya Rp450.000, jadi sekali panen menghasilkan Rp4,5 juta. Itu bila
panen dalam keadaan normal. Namun bila dalam keadaan tidak normal,
dengan kendala seperti banjir, curah hujan rendah, diserang hama tikus
atau wereng, hasilnya hanya 2 ton, 1 ton, bahkan kurang dari 1 ton.
Untuk
mengatasi yang demikian, Suparnen melakukan kegiatan beternak. Ternak
yang diusahakan itu seperti ternak sapi, itik, dan ayam. Dalam beternak
sapi, ia menggunakan sistem gaduh, yakni memelihara ternak orang
kemudian bila ternak itu beranak maka anaknya dibagi. Dari sistem gaduh
ini sungguh sangat luar biasa, ia bisa memiliki sapi hingga 5 ekor.
Harga jual per ekor Rp5 juta hingga Rp10 juta. Dari penjualan sapi
inilah Suparnen bisa membangun atau memperbaiki rumah pemberian
pemerintah.
Bila dari hasil sawah cukup untuk makan sehari-hari,
maka dari beternak sapi, rumah Suparnen bisa lebih mentereng. Tak hanya
itu Suparnen pun juga mempunyai peternakan ayam, jumlah ayamnya mencapai
30 ekor dan itiknya juga 30 ekor. Ia pun juga berkebun dari sisa lahan
yang ada dengan menanami sayur-sayuran.
Saat berangkat dari
Pacitan, Suparnen dan Katmi hanya memiliki satu anak, namanya Suroso,
setiba di Jonggon Jaya, anaknya bertambah 2, yakni Samsul Arifin dan
Rudi Santoso. Dari penghasilan pertanian dan peternakan yang digeluti,
Suparnen mampu menyekolahkan anaknya hingga perguruan tinggi. Suroso
sekolah di SD 028 Loa Kulu, SMP 03 Loa Kulu, SMKN 6 Samarinda, dan
kuliah di Universitas Kutai Kartanegara Jurusan Geologi dan
Pertambangan. Di kalangan mahasiswa di Tenggarong, Suroso merupakan
sosok yang popular, sebab ia pernah menjadi Ketua Umum HMI Cabang
Tenggarong. Sedang Samsul Arifin sekolah di SD 028 Loa Kulu, SMP 03 Loa
Kulu, dan SMK 2 Tenggarong. Saat ini Samsul Arifin sudah menikah dan
bekerja di perusahaan pembiayaan. Sedang Rudi Santoso sekolah di SD 02
Loa Kulu, SMP 03 Loa Kulu, dan saat ini masih sekolah di SMK Geologi dan
Pertambangan Tenggarong.
Setahun yang lalu Suparnen meninggal
dunia, sekarang istrinya, Katmi tinggal bersama Suroso dan Rudi Santoso.
Suroso-lah yang saat ini meneruskan dan mengembangkan usaha
orangtuanya. Menurut Suroso saat ini penduduk di Jonggon Jaya mulai
beralih dari menanam padi di sawah ke perkebunan sawit dan karet.
Perkebunan karet dan sawit dibuka dengan tidak mengganti sawah menjadi
kebun sawit dan karet, namun dengan memperluas lahan atau membeli lahan
baru. Dikatakan oleh Suroso bahwa keluarganya sekarang memiliki 1 ha
kebun sawit. Dari perkebunan ini ia bisa memanen 2 minggu sekali dengan
sekali panen memperoleh 4 kuintal. Perkilonya Rp600. Jadi sekali panen
mendapat Rp240.000.
Suroso sendiri saat kuliah sudah mulai
berwiraswata seperti mendirikan usaha pengetikan dan internet di Kota
Tenggarong bahkan pernah berjualan minuman es campur di taman di samping
Sungai Mahakam. “Sekarang mulai mengembangkan usaha menjadi kontraktor
kontruksi, walau disebutkan masih kecil-kecilan,” ujarnya.
Sebagai
anak seorang transmigran, Suroso menyebut ada 2 hal penting dalam
transmigrasi. Pertama, secara umum transmigrasi memberi dan mempunyai
peluang untuk mengubah perekonomian masyarakat. Pemerintah telah
menyediakan lahan kepada para transmigran sebagai peluang untuk mengubah
kehidupan yang ada. Kedua, sukses atau tidaknya transmigran, semuanya
juga tergantung kepada individu mereka. Program transmigrasi bukan
program sim salabim atau mengubah sesuatu dengan cepat. Mereka, para
transmigran, harus bekerja keras dan inovatif. “Orangtua saya dulu
sebagai petani dan karena berada di sawah maka harus bekerja keras,”
ujarnya. Diakui bila tidak mau bekerja keras maka transmigran itu akan
gagal bertahan dan selanjutnya kembali ke Jawa. “Dari 100 kepala
keluarga transmigran, biasanya ada 10 kepala keluarga yang balik ke
Jawa,” ungkapnya.
Lebih lanjut diungkapkan dari penempatan
transmigran di sebuah daerah membuat daerah itu bisa berkembang. Diakui
ketika pertama kali tiba di Jonggon Jaya, listrik belum ada. Sekarang
listrik sudah ada dan jalan-jalan dari rumahnya ke Kota Tenggarong sudah
diaspal sehingga tidak susah lagi kalau mau belanja atau jalan-jalan ke
Kota Tenggarong, Samarinda bahkan Balikpapan. “Dari semua itu program
transmigrasi mampu menciptakan peluang lapangan kerja dan ekonomi baru,”
ujarnya.
Ardi Winangun
Penulis adalah Seorang Wartawan - See more at: http://suar.okezone.com/read/2012/10/31/58/711457/mengubah-hidup-dengan-transmigrasi#sthash.kP2AyYeY.dpuf
Suparnen
dan Katmi merasa hidup di Desa Pager Lor, Kecamatan Sudimoro, Kabupaten
Pacitan, Jawa Timur, tidak memberi harapan. Pulau Jawa yang dirasa
sudah padat penduduk dianggap sudah tidak mampu memberi penghidupan yang
layak. Untuk menyiasati yang demikian, pada tahun 1982, mereka
memutuskan untuk ikut program transmigrasi.
Mereka ikut program
pemerintah itu dengan alasan mendukung program penyebaran penduduk,
penghasilan di tempat asal tidak mencukupi, serta di daerah tujuan
transmigrasi masih banyak tanah-tanah yang luas dan belum digarap, ini
merupakan sebuah peluang. Akhirnya ia bersama dengan 50 kepala keluarga
lainnya, ikut program transmigrasi yang diadakan oleh pemerintah dengan
penempatan di Desa Jonggon Jaya, Kecamatan Loa Kulu, Kabupaten Kutai
(belum pemekaran), Kalimantan Timur.
Ketika tiba di Jonggon Jaya,
keadaan desa itu masih dalam proses pembukaan lahan, pohon-pohon hutan
masih ditebangi. Selepas penebangan hutan, lahan-lahan yang akan dicetak
menjadi sawah itu masih berupa tanah lapang dengan timbunan potongan
batang dan ranting yang masih berserakan. Di lahan bekas hutan itulah
para transmigran dijatah 1 ha untuk sawah dan 0,5 ha untuk bangunan
rumah dan pekarangan. Lahan hasil pembagian itu oleh para transmigran
dicetak menjadi sawah sendiri.
Meski mencetak sawah sendiri hal
demikian tidak menjadi masalah bagi para transmigran, dengan suka rela
mereka mengerjakan demi masa depannya. Begitu lahan sudah menjadi sawah,
para transmigran menanami dengan padi jenis IR64 dan jenis lain. Panen
padi di Jonggon Jaya hasilnya bervariasi, sebab sawah di desa itu bukan
sawah dengan sistem pengairan irigasi, seperti di Jawa atau Bali, namun
sawah dengan pengairan tergantung pada curah hujan atau dikenal dengan
sebutan sawah tadah hujan. Jadi tergantung pada iklim yang ada. Bila
dalam keadaan normal, luas sawah 1 ha menghasilkan panen 4 ton. Pada
saat itu hasil panen tidak dijual perkilo namun perkuintal. Satu kuintal
harganya Rp450.000, jadi sekali panen menghasilkan Rp4,5 juta. Itu bila
panen dalam keadaan normal. Namun bila dalam keadaan tidak normal,
dengan kendala seperti banjir, curah hujan rendah, diserang hama tikus
atau wereng, hasilnya hanya 2 ton, 1 ton, bahkan kurang dari 1 ton.
Untuk
mengatasi yang demikian, Suparnen melakukan kegiatan beternak. Ternak
yang diusahakan itu seperti ternak sapi, itik, dan ayam. Dalam beternak
sapi, ia menggunakan sistem gaduh, yakni memelihara ternak orang
kemudian bila ternak itu beranak maka anaknya dibagi. Dari sistem gaduh
ini sungguh sangat luar biasa, ia bisa memiliki sapi hingga 5 ekor.
Harga jual per ekor Rp5 juta hingga Rp10 juta. Dari penjualan sapi
inilah Suparnen bisa membangun atau memperbaiki rumah pemberian
pemerintah.
Bila dari hasil sawah cukup untuk makan sehari-hari,
maka dari beternak sapi, rumah Suparnen bisa lebih mentereng. Tak hanya
itu Suparnen pun juga mempunyai peternakan ayam, jumlah ayamnya mencapai
30 ekor dan itiknya juga 30 ekor. Ia pun juga berkebun dari sisa lahan
yang ada dengan menanami sayur-sayuran.
Saat berangkat dari
Pacitan, Suparnen dan Katmi hanya memiliki satu anak, namanya Suroso,
setiba di Jonggon Jaya, anaknya bertambah 2, yakni Samsul Arifin dan
Rudi Santoso. Dari penghasilan pertanian dan peternakan yang digeluti,
Suparnen mampu menyekolahkan anaknya hingga perguruan tinggi. Suroso
sekolah di SD 028 Loa Kulu, SMP 03 Loa Kulu, SMKN 6 Samarinda, dan
kuliah di Universitas Kutai Kartanegara Jurusan Geologi dan
Pertambangan. Di kalangan mahasiswa di Tenggarong, Suroso merupakan
sosok yang popular, sebab ia pernah menjadi Ketua Umum HMI Cabang
Tenggarong. Sedang Samsul Arifin sekolah di SD 028 Loa Kulu, SMP 03 Loa
Kulu, dan SMK 2 Tenggarong. Saat ini Samsul Arifin sudah menikah dan
bekerja di perusahaan pembiayaan. Sedang Rudi Santoso sekolah di SD 02
Loa Kulu, SMP 03 Loa Kulu, dan saat ini masih sekolah di SMK Geologi dan
Pertambangan Tenggarong.
Setahun yang lalu Suparnen meninggal
dunia, sekarang istrinya, Katmi tinggal bersama Suroso dan Rudi Santoso.
Suroso-lah yang saat ini meneruskan dan mengembangkan usaha
orangtuanya. Menurut Suroso saat ini penduduk di Jonggon Jaya mulai
beralih dari menanam padi di sawah ke perkebunan sawit dan karet.
Perkebunan karet dan sawit dibuka dengan tidak mengganti sawah menjadi
kebun sawit dan karet, namun dengan memperluas lahan atau membeli lahan
baru. Dikatakan oleh Suroso bahwa keluarganya sekarang memiliki 1 ha
kebun sawit. Dari perkebunan ini ia bisa memanen 2 minggu sekali dengan
sekali panen memperoleh 4 kuintal. Perkilonya Rp600. Jadi sekali panen
mendapat Rp240.000.
Suroso sendiri saat kuliah sudah mulai
berwiraswata seperti mendirikan usaha pengetikan dan internet di Kota
Tenggarong bahkan pernah berjualan minuman es campur di taman di samping
Sungai Mahakam. “Sekarang mulai mengembangkan usaha menjadi kontraktor
kontruksi, walau disebutkan masih kecil-kecilan,” ujarnya.
Sebagai
anak seorang transmigran, Suroso menyebut ada 2 hal penting dalam
transmigrasi. Pertama, secara umum transmigrasi memberi dan mempunyai
peluang untuk mengubah perekonomian masyarakat. Pemerintah telah
menyediakan lahan kepada para transmigran sebagai peluang untuk mengubah
kehidupan yang ada. Kedua, sukses atau tidaknya transmigran, semuanya
juga tergantung kepada individu mereka. Program transmigrasi bukan
program sim salabim atau mengubah sesuatu dengan cepat. Mereka, para
transmigran, harus bekerja keras dan inovatif. “Orangtua saya dulu
sebagai petani dan karena berada di sawah maka harus bekerja keras,”
ujarnya. Diakui bila tidak mau bekerja keras maka transmigran itu akan
gagal bertahan dan selanjutnya kembali ke Jawa. “Dari 100 kepala
keluarga transmigran, biasanya ada 10 kepala keluarga yang balik ke
Jawa,” ungkapnya.
Lebih lanjut diungkapkan dari penempatan
transmigran di sebuah daerah membuat daerah itu bisa berkembang. Diakui
ketika pertama kali tiba di Jonggon Jaya, listrik belum ada. Sekarang
listrik sudah ada dan jalan-jalan dari rumahnya ke Kota Tenggarong sudah
diaspal sehingga tidak susah lagi kalau mau belanja atau jalan-jalan ke
Kota Tenggarong, Samarinda bahkan Balikpapan. “Dari semua itu program
transmigrasi mampu menciptakan peluang lapangan kerja dan ekonomi baru,”
ujarnya.
Ardi Winangun
Penulis adalah Seorang Wartawan - See more at: http://suar.okezone.com/read/2012/10/31/58/711457/mengubah-hidup-dengan-transmigrasi#sthash.o1b7VhKN.dpuf